Sabtu, 02 Agustus 2014

EXPLORE METRO MANILA, PHILIPPINES

Malacanang Palace, Manila
Perjalanan pertama saya menginjakan kaki ke Filipina tepatnya di kota Manila cukup singkat yakni pada tanggal 22-23 September 2012 Silam. Hanya dua hari saja. Pun itu hanya diwaktu weekend. Namun selama dua hari tersebut lumayan banyak tempat menarik yang saya kunjungi dan banyak hal yang dapat saya lakukan. Bandara Internasional Ninoy Aquino di Manila pun letaknya masih cukup dekat dari pusat kota, praktis tidak membuang waktu banyak untuk explore kota Manila. Terlebih sarana transportasi di dalam kota Manila sudah ada LRT dan MRT yang menjangkau hampir setiap sudut kota.
Pemandangan  Metro Manila dari Intramuros
Banyak tourism spot  yang sempat saya singgahi. Sebut saja kawasan kota Tua Intramuros yang tertata dengan sangat apik dan dikelilingi benteng yang sangat luas. Kawasan kota Tua Intramuros ini sendiri mudah sekali dicapai dari mana-mana. Terletak tidak jauh dari LRT Central Station, jalan kaki bisa dilakukan ke kawasan kota tua Intramuros. Begitu masuk ke kawasan kota Intramuros pun akan banyak pengemudi tricycle yang menawarkan untuk mengantarkan kita keliling kawasan kota Tua Intramuros yang memang sangat luas. Di Dalam kawasan Intramuros ini sendiri banyak bangunan tua yang menarik dan masih sangat terawat dengan baik seperti beberapa gereja tua peninggalan portugis, benteng, dan beberapa museum. Bisa dibilang butuh waktu lebih dari setengah hari jika kita ingin benar- benar ekplore kawasan kota Tua Intramuros, menyelami setiap sudutnya, dan berinteraksi dengan penduduk di dalamnya.
Explore Intramuros
Tour de Intramuros
Dan hal yang sangat khas dari Manila tentu saja angkutan Jeepney yang sangat unik itu. Naik Jeepney cukup bayar 8-12 peso atau sekitar Rp 2rb-3rb saja sekali jalan. Dan uniknya pula sistem pembayaran di Jeepney ini dengan cara estafet dari penumpang satu ke penumpang lain. Jadi kalau kita duduk tepat di belakang sopir, siap-siap saja ya menerima uang estafet dari penumpang yang lain. Hehe!! Saya sendiri sempat mengalami culture shock akibat naik jeepney ini dan tidak mengerti kenapa banyak orang yang memberi saya uang yang kebetulan duduk di belakang sopir. Ternyata memang dengan cara estafet seperti itu uang diberikan ke sopir. Wah...

Monumen Perjuangan
Jeepney
Sebagai negara yang mayoritas penduduknya mayoritas beragama Khatolik (sekitar 92%), Gereja-gereja peninggalan Spanyol dari abad 18 dengan arsitekturnya yang khas banyak sekali beterbaran di setiap sudut kota Manila. Bahkan ketika saya mencoba masuk ke salah satu Mall terkenal di kawasan elit distrik Ayala, terdapat gereja di tengah-tengah Mall dan karena pada waktu itu hari minggu banyak pula orang yang sembanyang. Wuih!! Banyak gereja tua yang megah dan cantik yang masih sangat terpelihara dengan sangat baik dan sangat sayang jika tidak diabadikan dengan kamera. ^_^

Ayala City
Meskipun mayoritas penduduknya Khatolik, bukan berarti tidak ada masjid sama sekali. Saya yang muslim mencoba mencari keberadaan Masjid di Manila dan akhirnya saya menemukan sebuah masjid yang disebut sebagai masjid terbesar di kota Manila yakni Golden Mosque yang tidak terlalu jauh dari istana kepresidenan Filipina yakni Malacanang,  namun setelah saya kesana ternyata tidak lebih besar dari Masjid Cut Meutia di kawasan Menteng, Jakarta. Tidak terlalu besar untuk ukuran sebuah masjid utama di kota Manila. Mungkin memang karena jarang muslim di kota Manila. Setelah sempat berbincang – bincang dengan pengurus masjid, ternyata penduduk muslim di Manila pun kebanyakan perantauan dari muslim Mindanao di Filipina selatan yang memang mayoritas muslim.
Tidak jauh dari Golden Mosque, cukup jalan kaki saja, saya melanjutkan perjalanan ke Istana kepresidenan Malacanang yang sangat megah itu. Hanya sekitar 300 m dari Golden Mosque saya menjumpai pos penjagaan istana. Ehm, sebetulnya kita bisa masuk ke istana untuk ikut tour dengan cara mengirimkan email terlebih dahulu beberapa minggu sebelumnya dan tour harus dalam rombongan. namun sayang, pada waktu itu Istana Malacanang sedang dalam proses maintenance atau perbaikan sehingga saya tidak bisa masuk. Suatu saat jika saya kembali lagi ke Manila, pasti saya kembali lagi untuk bisa ikut tour istana Malacanang.

Gereja Peninggalan Portugis
Saya sempatkan juga mampir ke kawasan pecinan atau China Town di kota Manila yang katanya merupakan kawasan China Town terbesar di Asia Tenggara namun menurut saya ternyata sangat padat dan lumayan kumuh. Lebih tertata kawasan china town yang di Singapore meskipun lebih kecil.  Walaupun demikian, saya justru menemukan sisi unik dari china town ini.

Universitas Manila
Kota Manila tidak lebihnya seperti Jakarta dalam beberapa hal. Macet, padat, dan menjamurnya mall-mall yang tersebar di setiap sudut kota begitupun di Manila. Banyak sekali Mall di kota Manila dan bahkan beberapa mall diantaranya langsung terhubung dengan LRT / MRT. Tidak lupa pula saya mencoba mampir  ke SM Mall of Asia, Mall yang katanya terbesar di Asia namun ternyata tingginya tidak lebih dari dua lantai..:)

Sore hingga malam hari lebih banyak saya habiskan di kawasan turis manila bay untuk hunting sunset dan atau sekedar kongkow-kongkow dengan beberapa teman dari komunitas couchsurfing Manila yang menemani saya jalan-jalan selama di Manila. Yah, meskipun menurut saya sunset di Manila Bay ini biasa-biasa saja, 11-12 dengan kawasan pantai marina ancol di Jakarta lah :). Manila bay  ini sendiri terletak di kawasan backpacker di daerah malate sehingga banyak kafe atau pub yang buka di malam hari menambah semarak Manila Bay. Sayangnya saya belum sempat mampir ke club atau diskotik yang banyak tersebar di kawasan turis di daerah malate ini :p

Hari berikutnya saya habiskan untuk explore ke kawasan utara Metro Manila tepatnya di Quezon City, dimana terdapat Quezon monument atau semacam Monasnya Manila. Tapi saya pikir Quezon monument ini  tingginya hanya separohnya monas. Quezon monument merupakan Iconnya Metro Manila san simbol perjuangan rakyat Filipina. Di dalam Quezon monument terdapat museum dan taman yang lumayan luas. Saya sendiri mencoba masuk ke museum dan ternyata ada guide yang siap mengantarkan kita untuk berkeliling museum dan menjelaskan banyak bal terkait Quezon monument  dan Filipina secara umum. Wah, saya jadi lebih paham lah mengenai sejarah Filipina dan kota Manila.
LRT Single Journey Card
Manila LRT
Dan jujur, saya baru tahu juga dari teman saya di Manila kalau ternyata jika kita menyebut kota Manila, hanyalah mencakup kota kecil di kawasan kota tua dan manila bay, karena ternyata penduduk setempat lebih mengenal Manila dengan sebutan Metro Manila yang terdiri dari banyak kota di dalamnya termasuk kota Manila.

Banyak hal yang saya sebut sebagai #ShockingManila  karena mungkin hanya ada di Manila dan justru membuat kota Manila menjadi unik diantaranya :
  • Dari jalan2 ke #manila, saya jadi tahu kalau ternyata sepatu tetap harus masuk x-ray di Bandara di Filipina. Jadi paling aman pakai sandal saja jika mau naik pesawat.
  • Sapa yang sangka juga kalo ternyata di masjid terbesar di #manila, golden mosque, dijaga penjaga yang selalu membawa senapan laras panjang. Bayangkan ada orang bawa–bawa senjata di pelataran masjid, namun syukurlah mereka sangat baik sama saya :)
  • Bincang-bincang dengan penduduk lokal di #manila, ternyata orang filipina menyebut bahasa nasionalnya dgn bahasa filipino, bukan bhs tagalok seperti yang kita pahami selama ini.
  • Dan selama di #manila, saya pun surprise trnyata banyak kata-kata dalam bahasa Filipino seperti Mahal, Murah, Lima, Kanan, dst artinya sama dengan bahasa Indonesia.
  • Jadi jangan heran kalau kita sedang heboh belanja dan menawar harga barang di #manila, kita bilang mahal/murah, dijamin pedagangnya ngerti bgt :)
  • Dan dari jalan-jalan ke #manila juga, saya baru tahu juga kalau Filipina, salah satu negara di ASEAN yang setir mobilnya di kiri diantaranya mayoritas negara ASEAN lainnya yang setir mobilnya di kanan
  •  Dan jangan heran juga kalau seven eleven di #manila, meskipun menyediakan tempat duduk yang oke buat tempat nongkrong tapi tidak menyediakan toilet seperti layaknya seven eleven di Indonesia.
  • Saya juga baru tahu kalau di #manila, hampir semua LRT/MRT pasti terhubung dengan Mall dan begitu keluar MRT langsung masuk Mall seperti misalnya LRT ke SM Mall North Avenue :)
  • Saking hebohnya oragn Filipina dengan Mall, hampir semua mall di #manila dibangun sangat megah dan hampir pasti ada taman luas di tengah-tengah Mall.
  • Dan tahukah kalian bahwa meski kita makan di restoran/foodcourt di mall-mall di #manila, kita bisa pesan "service drink" alias air putih gratis :)
  • Jangan heran pula kalau setiap kita masuk mall di #manila, tas kita harus dibuka dan bakal diaduk-aduk sama tongkat saking ketatnya pemeriksaannya.
  • Tidak hanya Mall, tapi setiap mau masuk MRT/LRT di #manila pun, tas kita bakal diobok-obok pakai tongkat. Kebayang kan kalau bawaan kita rempong :)
  • Adakah yang tahu jika trnyata, Mall of Asia, mall di #manila yang disebut-sebut sebagai Mall terbesar di Asia, "cuma" terdiri dr 2 lantai.
  • Selain heboh dengan mallnya :), #manila jg identik dengan gereja-geraja penuh artistik peninggalan spanyol yang sangat megah dan masih digunakan meskipun sudah berumur ratusan tahun
  • Banyak gereja peninggalan spanyol di #manila berumur ratusan tahun masih terawat dengan baik. Salut untuk yang satu ini.
  • Siapa sangka pula, jika istana kepresidenan Malacanang di #manila yang megah itu letaknya sangat dekat dengan kantong-kantong pemukiman kumuh yang banyak pengemis.
  • Pernah tahu balot, street food paling terkenal di Filipina yang berupa telur rebus setengah matang berisi anak ayam yang mau menetas dan bikin banyak orang mual jika mencoba mencicipinya namun ternyata makanan balot ini sangat familiar dan mudah sekali ditemukan di pinggir-pinggir jalan di kota #Manila.
  • Bahasa Inggris di #manila dan Filipina pada umumnya merupakan bahasa yang sangat lazim dan umum digunakan serta merupakan bahasa pengantar resmi di sekolah-sekolah di filipina. Jadi dari Sekolah Dasar, bahasa pengantar semua mata pelajaran adalah bahasa inggris kecuali pelajaran bahasa Filipina.
Senja di Manila Bay
Manila, memang sangat mirip dengan Jakarta. Mulai dari Mall yang jumlahnya segambreng sampai MRT Manila yang ternyata tidak berbeda jauh dari KRL Comutter Jabodetabek yang penuh sesak di jam-jam sibuk. Namun apapun itu, Manila masih tetap sangat menarik buat saya, dengan pedicabnya yang unik, jepneey yang nyentrik dan gereja-gereja peninggalan Spanyol yang sangat artistik.
Ada kesalahan di dalam gadget ini