Tampilkan postingan dengan label Cambodia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cambodia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Juli 2015

Eksplore Phnom Penh Kamboja

Royale Palace, Phnom Penh, Kamboja
Phnom Penh, Ibukota Kamboja cukup menarik untuk didatangi. Meskipun sebagai ibukota negara, lalu lintas dan kepadatan kota ini masih tidak terlalu ramai. Saya pun menyempatkan diri menginap dua malam di kota ini setelah sehari sebelumnya saya eksplore kota Siem Riep dengan Angkor Wat-nya dalam rangkaian perjalanan saya mengunjungi negeri Kamboja.

Cerita saya sebelumnya pada waktu eksplore Angkor Wat di Siem Riep dapat dilihat disini :
http://www.aufasidix.blogspot.com/2015/06/eksplore-angkor-wat-kamboja.html

Saya menggunakan bus malam dari Siem Riep untuk menuju kota Phnom Penh. Bus Malam di kamboja rata-rata merupakan sleeper bus dimana kita bisa tidur sepanjang perjalanan. Ada banyak pilihan bus malam dari Siem Riep ke Phnom Penh maupun sebaliknya dengan harga yang cukup bervariatif. Saya sendiri pesen bus di hotel tempat saya menginap di Siem Riep dan termasuk antar jemput ke hotel.

Selama di Phnom Penh, saya menginap di daerah central market yang merupakan daerah backpacker. Selain karena murah, pertimbangan lainnya karena lokasi ini berada di pusat kota dan sangat strategis ke tempat - tempat wisata utama di kota Phnom Penh seperti Royale Palace, National Museum, Wat Phnom, dan Silver Pagoda. Sangat pas buat yang ingin menghemat budget karena banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi dengan jarak yang berdekatan.

Royale Palace Park, Phnom Penh
Royale Palace merupakan tempat yang secara statistik paling banyak dikunjungi oleh wisatawan yang berkunjung ke Phnom Penh termasuk saya.  Kawasan Istana yang sangat besar dan cantik dengan arsitekturnya yang khas Kamboja sangat mencolok dan kontras diantara bangunan lain disekelilingnya. Terletak di tengah kota Phnom Penh, Royale Palace sangat mudah didatangi. Komplek Royale Palace ini sangatlah luas dan yang paling terkenal dari Royale Palce ini ialah keberadaan Silver Pagoda yang berada di dalam komplek Royale Palace. Di depan royale palace, terdapat taman yang sangat luas dengan ratusan burung merpati yang bertebangan kesana kemari. Indah sekali!

Tidak jauh dari Royale Palace, terdapat museum nasional kamboja, Tampak dari luar museum ini tidak terlalu besar dengan bangunan yang khas arsitektur kamboja dengan nuansa warna merah. Dengan membayar tiket masuk sebesar 5 $, Tidak banyak yang bisa diceritakan di museum ini, meskipun sebagai museum nasional namun ternyata tidak terlalu luas. Museum ini kebanyakan menyimpan barang-barang peninggalan kerajaan angkor di masa silam yang sebagian besar juga ada di Museum Siem Riep. Namun saya suka dengan gaya arsitektur museum yang unik dan terlihat sangat mencolok dibandingkan bangunan disekitarnya.

Cambodia National Museum
Cambodia National Museum
Untuk transportasi di dalam kota Phnom Penh, saya memutuskan untuk menggunakan tuktuk yang banyak bertebaran dimana-mana. Sebetulnya jika sendirian, bisa menggunakan jasa ojek. Hanya saja saya tidak begitu menyarankan jika eksplore kota Phnom Penh dengan menggunakan ojek. Selain cuaca yang sangat panas dan berdebu di jalanan kota Phnom Penh, jarang sekali tukang ojek menyediakan helm untuk penumpangnya. Hal ini saya alami waktu sewa ojek dari hostel saya di kawasan central market ke ladang pembantaian di Chong Ek yang berjarak 1 jam perjalanan. Saya tidak mengenakan helm sama sekali ditambah jalanan berdebu. Wah, kapok saya naik ojek di Phnom Penh. hehe!

Di Kamboja saya memang nyaris tidak menemukan taksi sama sekali. Tuktuk merupakan angkutan yang sangat lazim digunakan oleh penduduk maupun turis termasuk di ibukota Phnom Penh. Satu hal yang harus diperhatikan jika naik tuktuk di Phnom Penh ialah berhati-hatilah dengan bawang bawaan kita, terutama jika kita mau memotret dalam kondisi tuktuk sedang berjalan. saya pernah diingatkan sama sopir tuktuk agar tidak memotret sewaktu di dalam tuktuk karena banyaknya copet yang bisa saja setiap saat menyambar kamera yang sedang kita pegang. Dompet atau kamera pun jangan kita pegang tapi sebaiknya dimasukkan ke dalam tas atau di dalam saku kita. Garis-garis kemiskinan memang masih tampak nyata di beberapa sudut kota Phnom Penh sehingga sangat wajar jika kriminalitas cukup tinggi di kota ini.


Tuktuk
Jika kita berkunjung ke Phnom Penh dan berniat untuk berburu soevenir khas Kamboja, maka russian market merupakan tempat yang sangat pas. Banyak sekali penjaja soevenir dengan harga yang sangat murah disini. Suasanya lebih mirip ke pasar tradisonal dengan kios-kios sempit dan lalu lalang manusia yang penuh sesak tapi justru disitulah seninya. Jangan lupa untuk menawar harga jika kita berburu oleh-oleh di Russian Market seperti yang saya lakukan. Jika kita memang orang yang suka berbelanja, saya pikir kita akan betah berlama-lama di Russian Market ini. Entah mengapa dinamakan Russian Market, apakah dulu banyak orang rusia yang belanja disini atau tinggal di sekitar pasar ini. Saya kurang tahu. Yang jelas, Russian Market merupakan tempat yang sangat oke buat belanja dan berburu souvenir di Phnom Penh. 

Pedagang Souvenir di Russian Market
Independent Monument
Selama di Phnom Penh, saya pun tidak lupa menyempatkan diri mengunjungi Wat Phnom, salah satu Wat terbesar di Phnom Penh. Lokasi Wat Phnom pun tidak jauh dari central market tempat saya menginap. Dengan ukurannya yang sangat besar, Puncak Wat Phnom yang menjulang tinggi sudah terlihat dari kejauhan. Sangat cantik! Dengan arsitektur yang khas Kamboja dan warna pink, terlihat sangat mencolok dibandingkan banguan lain di sekitarnya. Untuk menuju puncak wat, saya harus menapaki beberapa puluh anak tangga menuju ke atas. Di atas Wat Phnom, ada pagoda kecil tempat penduduk setempat bersembahyang. Wat Phnom ini letaknya memang agak di atas sebuah bukit dengan taman-taman cantik yang mengelilingnya. Suasa yang sangat teduh dan tenang membuat saya betah berlama-lama disini.

Masuk Wat Phnom
Wat Phnom
Selama di Phnom Penh, saya pun tidak lupa menyempatkan untuk icip-icip kuliner khas kamboja, salah satunya Amok. Semacam sup dengan kuah yang sangat kental dan aroma rempah-rempah yang sangat kuat. Amok ini sendiri ada 2 macam yaitu Amok Ayam dan Amok Ikan. Rasanya pun saya pikir sangat cocok dengan lidah orang Indonesia. Yummy. Sayang, saya agak susah enemukan makanan khas kamboja yang bisa dibawa pulang ke Indonesia.

Amok, Cambodia Traditional Food
Phnom Penh Street Food
Berbicara tentang Phnom Penh pada khususnya atau Kamboja pada umumnya, tentu tidak terlepas dari sejarah kelam negeri itu waktu dilanda perang saudara di akhir tahun 1970an dimana pada waktu itu kamboja kehilangan lebih dari ¼ dari total populasinya dan dikenal sebagai salah satu tragedi kemanusian terbesar yang pernah ada dalam sejarah dunia. Sisa-sisa pembantaian tersebut masih dengan sangat jelas saya lihat di kota Phnom Penh ini. Saya sempat mengunjungi genoside museum yang dulu merupakan sebuah penjara tempat dimana jutaan orang dari seluruh negeri disiksa dan dibantai disini. Ditampilkan pula foto-foto pada waktu penyiksaan dan alat yang digunakan untuk menyiksa pada waktu itu. Sangat mengerikan!
Alat Siksa di Genocide Museum
Genocide Museum
Saya juga menyempatkan diri ke bekas ladang pembantaian di Chong Ek yaitu tempat bekas pembantaian dan penguburan massal orang-orang yang ditangkap pada waktu kamboja masih di bawah rezim Pol Pot. Saya pun seakan ikut terhanyut dengan tragedi masa lalu itu. Ya, perang saudara di Kamboja pada masa lalu mungkin masih menimbulkan bekas luka yang mendalam di sebagian besar masyarakat kamboja. Ribuan tengkorak manusia masih dipajang di moumen peringatan di Chong Ek sebagai pengingat masa-masa kelam tersebut.

Ribuan Tengkorak di Ladang Pembantaian Chong Ek
Meskipun sekarang Kamboja sudah terbebas dari perang saudara, namun kemiskinan masih sangat terlihat dengan jelas disini. Kamboja seperti masih tertatih-tatih untuk mengejar ketertinggalan dibandingkan negara-negara tetangganya di kawasan Asean yang telah lebih dulu maju. Di Phnom Penh inilah, kita dapat melihat wajah kamboja secara lebih jelas mulai dari sejarah masa lalunya, akulturasi budaya serta kearifan lokalnya.

Tidak lama saya berada di Phnom Penh. Saya pun melanjutkan perjalanan ke kota Sihanoukville di ujung selatan Kamboja yang berjarak 5 jam perjalanan dari Phnom Penh yang terkenal dengan pantai-pantainya. Nantikan cerita saya selanjutnya waktu explore pantai di Sihanoukville dalam rangkaian perjalanan saya menyusuri negeri Kamboja.

....... (Bersambung)


Selasa, 09 Juni 2015

Eksplore Angkor Wat Kamboja

Pagi di Angkor Wat
Sudah lama saya memimpikan menginjakkan kaki di jejak-jejak peninggalan kerajaan kuno di Angkor Wat, Siem Riep, Kamboja yang disebut-sebut sebagai salah satu situs arkeologi terbesar di dunia yang akhirnya kesampaian juga ketika saya diberi kesempatan untuk eksplore Siem Riep di Kamboja pada bulan Maret 2015 yang lalu. Menjelajahi puluhan Wat / Temple di Kawasan Angkor, Siem Riep, tidak akan pernah cukup hanya dalam waktu 1-2 hari saja. Dengan total lebih dari 80 Wat, perlu waktu sampai berminggu-minggu jika ingin mengeksplorasi semuanya. Saya yang hanya menghabiskan waktu selama 2 hari di Siem Riep pun akhirnya “terpaksa” memilih candi-candi utama saja di kawasan Angkor untuk dijelajahi seperti bayon, angkor, thom, dan candi–candi besar lainnya. Perjalanan yang sangat singkat memang namun sarat pengalaman seru. Hehe!

Angkor Thom

Wat Bayon
Menjelajahi kota siem riep dengan angkor watnya seolah seperti kembali ke kamboja masa lalu. Betapa angkor wat yang disebut-sebut sebagai komplek wat / temple terbesar di dunia benar-benar menunjukkan sisa-sisa kejayaan Kamboja pada masa silam.  Banyak wat yang masih berdiri dengan kokoh. Untuk memasuki kawasan angkor wat ini, saya dan juga turis-turis yang lain diwajibkan membayar sebesar USD 20 untuk waktu kunjungan selama 1 hari. Karena saya sampai Siem Riep pada sore hari dan saya membayar untuk keesokan harinya maka saya mendapat akses gratis sore itu ke angkor wat untuk melihat sunset. Cukup worth it lah dengan biaya segitu! 

Saya yang bersama dengan 3 orang teman ketika eksplore Siem Riep memutuskan untuk menyewa tuk-tuk seharian agar lebih hemat waktu dan biaya.  Untuk mencari tuktuk di siem riep untuk disewa seharian tidaklah sulit. Tuktuk bertebaran dimana-mana. Namun pastikan kita harus menawar harga dan deal di awal serta pastikan rute-rute mana saja yang akan kita lalui. Waktu itu karena terjadi kesalahpahaman antara kami dan supir tuktuk dimana kami merencanakan untuk eksplore juga beberapa museum dan kawasan night market yang masih di dalam kota Siem Riep, ternyata itu tidak termasuk dalam tour angkor wat sehingga kami harus menambah biaya ekstra buat sewa tuk-tuk. Sempat adu mulut dengan supir tuk-tuknya karena kami sudah sewa tuktuk seharian. ehm, lesson learned :)

Dari puluhan wat yang sempat saya singgahi, Angkor Thom yang menurut saya paling eksotik dengan banyaknya wat yang dililit akar-akar pohon yang sangat besar sehingga menimbulkan kesan mistis. Apalagi suasana di dalam Angkor Thom yang penuh labirin dan jalan yang berliku. Tidak heran kawasan angkor thom ini dijadikan syuting film tom raider-nya "Angelina Jolie". Sejak masuk sebagai lokasi syuting film hollywood, kawasan angkor thom menjadi sangat ramai ketika saya datang. untuk foto saja saya harus sabar antri dengan turis yang lain. Pohon raksasa yang melilit sebuah wat yang dijadikan lokasi favorit buat foto-foto pun sudah dipagari  untuk menghindari ulah jahil wisatawan yang berusaha memanjat pohon dan dikhawatirkan akan merusak wat. 
Di Dalam komplek Angkor Wat
Matahari Terbit di Angkor Wat
Bayon
Salah satu wat yang masih dipugar
Angkor Thom
Danau di Angkor Wat
Meski sudah menjelajahi kawasan angkor wat seharian mulai dari melihat sunrise di angkor wat sampai melihat sunset di Phnom Bakheng, rasanya masih belum puas dan belum cukup. Komplek angkor wat memang sangat besar. Namun objek wisata di Siem Riep tidak hanya angkor wat dengan puluhan watnya. Jika kita suka dengan sejarah ada banyak museum menarik yang bisa didatangi selama di Siem Riep. Ada danau tonle lap juga  yang memanjakan mata siapapun yang datang kesana apalagi menjelang sunset. Jadi Siem Riep tidak hanya melulu mengenai angkor wat meskipun memang daya tarik angkor wat lah yang membuat turis berbondong-bondong datang ke Kamboja.

Salah satu museum di Siem Riep yang sempat saya kunjungi dan cukup membekas di ingatan saya ialah museum perang. Sebetulnya museum perang di Siem Riep ini biasa saja, Tiket masuknya pun cukup mahal sebesar USD 5. Benda-benda peninggalan di museum perang ini pun kebanyakan sudah rusak seperti bekas tank atau senjata. Namun yang membuat saya berkesan  adalah penjelasan dari guidenya yang sangat memukau. Guide yang menemani saya merupakan mantan tentara dan pejuang kamboja  yang telah kehilangan seluruh keluarganya akibat perang serta kakinya hancur akibat menginjak ranjau sehingga ia harus memakai kaki palsu pada waktu kamboja dilanda perang saudara yang menghabiskan seperempat dari populasinya. Salah satu tragedi kemanusian dan pembantaian terbesar yang pernah terjadi di dunia. Dari penjelasan guide terebut saya pun tercengang dengan fakta bahwa sampai dengan detik ini setiap minimal 4 hari sekali ada satu orang yang tewas akibat menginjak ranjau yang ditanam pada waktu zaman perang dan tersebar dimana-mana. Negeri Kamboja yang sekarang ibarat sebuah ladang ranjau raksasa dan bukan tidak mungkin masih bisa dengan mudah ditemukan ranjau yang tersembunyi dan di tanam di dalam tanah. Sejenak saya seperti dibawa kembali ke zaman memilukan pada waktu Kamboja dilanda perang saudara dan dibawah rezim khmer.

Guide di Museum Perang Siem Riep
Menghabiskan malam hari di Siem Riep juga sangat menarik seperti eksplore kawasan night market dan pub street yang ramai dengan orang-orang, pasar souvenir dan street foods. Ini merupakan kawasan paling happening di siem riep jika malam tiba. Saya  mencoba menyusuri kawasan night market ini dari ujung pasar souvenir yang banyak penjual cinderamata sampai ke pub street yang banyak kafe dengan musik yang memekakkan telinga. Suasana sangat ramai saat itu dengan turis lalu lalang di tengah jalan dan berbaur dengan warga lokal.

Di kawasan night market ini banyak sekali jajanan yang menggiurkan. Saya sempat icip-icip makanan khas kamboja yang menurut saya sangat enak yakni amok dan khmer curry dengan kuah yang kental dan sangat beraroma rempah-rempah. Sangat enak! Namun saya merasa harga makanan di kawasan Siem Riep ini cukup mahal. Mungkin karena kawasan turis sehingga harganya menjadi mahal. Jika kita membeli souvenir di night market pun sebaiknya tawar yang sadis karena harganya memang dinaikkan teerlebih dahulu sebelum dijual ke turis.

Pub Street di kawasan night market
Fruit Shake di Night Market
Khmer Curry, Cambodia Traditional Food
Lukisan yang dijual di beberapa wat di kawasan angkor
Plae Teuk Dos, buah khas kamboja
Eksplore kawasan angkor wat seharian dimulai dari melihat sunrise pada dini hari di depan Angkor Wat sampai menikmati sunset dan refleksi sinar matahari sore di bukit Pnomh Bakheng dilanjutkan dengan menikmati malam di siem riep di kawasan night market menjadikan perjalanan saya eksplore angkor wat menjadi sempurna. Apalagi cuaca sangat cerah selama seharian penuh. Suasana jalanan di Siem Riep juga tidak seramai yang saya bayangkan meski beberapa kali saya menjumpai turis yang lalu - lalang di jalan-jalan.

Angkor Wat

Cukup singkat perjalanan saya menyusuri Angkor Wat di Siem Riep Kamboja. Hanya 2 hari  1 malam. Saya harus melanjutkan perjalanan saya kembali ke kota Phnom Penh dalam rangkaian perjalanan saya menyusuri negeri Kamboja. Tunggu cerita saya berikutnya di Phnom Penh (bersambung)...............