Tampilkan postingan dengan label Sumatra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sumatra. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Februari 2019

DANAU TOBA

Pemandangan Danau Toba dari kawasan tuktuk, Pulau Samosir

Kunjungan saya ke Danau Toba beberapa bulan setelah tragedi tenggelamnya kapal KM Lestari di danau toba. Sejak tragedi tenggelamnya kapal tersebut, sepertinya gelait pariwisata di danau toba sempat menurun, bahkan ketika saya kesana kemarin pada awal desember 2018, begitu mudahnya mencari homestay yang kosong. Ya, tragedi kelam tersebut sedikit banyak telah mempengaruhi jumlah kunjungan wisatawan ke danau toba.

Saya sendiri pergi ke danau toba dengan menggunakan pesawat langsung ke bandara silangit yang terletak di kabupaten toba samosir. Memang dari bandara silangit ini, jarak ke danau toba bukan berarti sudah dekat, namun masih 2 jam perjalanan lagi dari bandara tapi setidaknya lebih dekat dibandingkan jika kita mendarat di bandara kuala namu yang memakan waktu 4-5 jam ke danau toba.

Menara Pandang Tele

Pemandangan dari Menara Pandang Tele
Mungkin belum banyak tahu bahwa kita bisa mencapai danau toba tanpa menggunakan kapal menyebrangi danau toba, dan itu yang saya lakukan. Dari Bandara Silangit, saya menggunakan armada damri untuk menuju daerah panguruan, di sisi sebelah barat danau toba yang tidak banyak turis. Dari panguruan inilah, terdapat jembatan kecil yang menghubungkan danau toba dengan daratan sumatra. Sebelum sampai di panguruan, damri akan berhenti sebentar di menara pandang tele untuk istirahat. Pemandangan danau toba dari menara pandang tele ini cukup jelas namun sayang pada waktu saya kesana cuaca sedikit mendung dan berawan. 

Di daerah panguruan ini juga terdapat mata air panas dan banyak homestay yang menyediakan kolam air panas di dalam homestay mereka. Menarik bukan? hehe. Saya sendiri sempat mencoba mandi air panas disini, tapi tidak tahan berlama-lama, paling hanya 15-20 menit saja karena memang air dari sulfur tersebut sangat panas. Rasanya kepala agak pusing jika kita terlalu lama mandi air panas disitu.


Air Terjun Sigarattung, Pulau Samosir
Kolam Air Panas di Pangururan

Danau di Pulau Samosir
Di Pulau Samosir sendiri banyak objek yang bisa didatangi. Ada air terjun, desa adat, dan bahkan beberapa danau juga di atas pulau samosir. Danau toba ini sangat besar dan terbagi menjadi 5 kabupaten dengan pulau samosir yang berada di tengah-tengahnya. Saya sendiri memutuskan untuk menyewa sepeda motor untuk keliling pulau samosir. waktu yang pas untuk jelajah danau toba dan pulau samosir adalah sekitar 3 hari dan dua malam karena lokasi yang cukup luas dan banyak obek wisaya yang tersebar. Mengendari kendaraan sendiri adalah pilihan terbaik untuk explore pulau samosir. 
Kapal penyeberangan tuktuk-parapat
Desa Adat Tomok, Pulau Samosir

Memang wisata danau toba sempat terpuruk akibat tragedi kapal tengelam, tapi siapa yang tahu jika musibah akan terjadi. Saya yakin wisata danau toba ke depannya akan semakin menggeliat dan maju apalagi sejak dibukanya penerbangan internasional  ke bandara silangit dari Kuala Lumpur yang menambah jumlah wisatawan luar negeri ke danau toba. 

Minggu, 23 September 2018

KOTA SABANG, PULAU WEH, ACEH


Titik Nol Kilometer Indonesia di Pulau Weh
Penyeberangan ferry dari kota Banda Aceh ke Pulau Weh dengan menggunakan kapal cepat / speedboat cukup cepat hanya 45 menit saja. Sedangkan jika menggunakan kapal lambat membutuhkan waktu sekitar 2 jam Ada beberapa pilihan untuk menyebrang ke Pulau Weh dari Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh yakni dengna Kapal Ferry / kapal lambat dan speadboat / kapal cepat. Jadwalnya hanya ada beberapa saja tiap hari jadi pastikan dulu dengan jadwal ferry yang mau dipakai sebelum berangkat.

Cerita saya sebelumnya pada waktu eksplore kota Banda Aceh dapat dilihat disini -> BandaACehTrip

Begitu sampai di pelabuhan Balohan, Pulau weh, banyak sekali berjajar ojek yang menawarkan jasanya. kita juga bisa menyewa sepeda motor disini. Sedangkat angkot hanya ada dari pelabuhan balohan ke kota sabang selama sekitar 30 menit berkendara. Saya sendiri memutuskan untuk menyewa sepeda motor biar bebas kesana kemari di pulau weh, termasuk tujuan utama saya ke pulau weh yakni ke tugu nol kilometer Indonesia  di titik pujung paling barat pulau weh atau berjarak sekitar 30 km sebelah barat kota Sabang.

Air Terjun Pria Laot, Pulau Weh
Saya sempat mengunjungi Air Terjun Pria Laot yang terletak di tengah pulau weh. Mengunjungi air terjun ini bisa dibilang gampang gampang susah. Papan Petunjuk yang minim pun kita masih harus jalan kaki sekitar 30menit dari lokasi parkir kendaraan. Motor yang saya bawa saya titipkan di rumah warga karena memang tidak akda semacam tempat parkir resmi di ujung jalan menuju air terjun ini. 



Danau Aneuk Laot
Objek wisata Lain di Pulau Weh yang sayang jika dilewatkan yakni Danau Aneuk Laot, satu-satunya danau air tawar yang ada di tengah pulau weh. Menuju Danau ini sangat gampang karena jalan menuju kesini sudah diaspal dan tidak jauh dari kota Sabang. Danau yang cukup luas ini kadang digunakan warga untuk memancing atau sekedar duduk-duduk di tepian danau sembari menikmati pemandangan danau.

Pantai Iboih

Perahu penyeberangan ke Pulau Rubiah
Salah satu pantai yang cukup terkenal di Pulau weh yakni Pantai Iboih. Tipikal pantai wisata yang banyak cottage dan pusat cinderamata. Beberapa orang mengungjungi pantai iboih karena hendak menyeberang ke Pulau Rubiah sekitar 20 menit saja dari pantai iboih dengan menyewa perahu nelayan. Pulau rubiah ini sangat terkenal sebagai destinasi diving atau snorkeling karena alam bawah lautnya yang sangat indah.

Saya sendiri hanya leyeh-leyeh duduk di pantai iboih dan  tidak sempat untuk menyebrang ke pulau rubiah karena saya memang tidak bisa diving, pun waktu saja juga tidak banyak. walhasil saya hanya eksplore pantai iboih saja sembari melihat perahu lalu lalang.

Pemandangan Pulau Weh dari Atas
Masjid Jami kota Sabang
Kota Sabang sendiri tidak terlalu luas. Salah satu spot di kota Sabang yang saya suka dan bisa melihat kota sabang dari atas adalah di pelataran hotel sabang hill yang terletak di atas bukit. Dari atas sini, terlihat wajah pulau weh dengan garis pantainya yang tenang.

BANDA ACEH

Pantai Ulee Lheue, Banda Aceh
Sudah lama saya ingin menginjakkan kaki provinsi paling ujung barat dari Indonesia ini, bumi serambi mekah, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Walaupun hanya weekend saja, akhirnya kesampaian juga saya untuk jalan-jalan ke Aceh. Karena saya hanya menghabiskan long weekend saja di Aceh sehingga saya hanya mampir ke kota Banda Aceh dan Pulau Weh. Saya mengngunakan maskapai low cost carrier dengan terlebih dahulu transit di kota Kuala Lumpur kemudian terbang ke Banda Aceh. Aneh memang jalan-jalan ke negeri sendiri namun harus ke Malaysia dahulu karena jika tiket dari Jakarta langsung ke Aceh atau transit di Medan cukup mahal. Karena saya datang ke ACeh dengan penerbangan internasional sehingga saya harus melewati imigrasi di Bandara Sultan Iskandar Muda. Tampak penumpang-penumpang lain kebanyakan warga Malaysia. Memang wisata aceh cukup terkenal bagi pelancong dari Malaysia terutama karena ada wisata tsunami dan wisata religi dimana aceh merupakan satu-satunya provinsi di Indonesia yang menerapkan hukum syariat islam.  


Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh
Dari bandara sultan iskandar muda, saya menyewa ojek untuk diantar ke pantai Ullee Lheue di ujung Banda Aceh, dekat dengan dermaga penyeberangan ke Pulau Weh. Dari Pantai  Ullee Lheue ini tampak pulau Weh di kejauhan. Yap, Pulau Weh yang terkenal bagi pecinta diving itu memang jaraknya cukup dekat dari Kota Banda Aceh. 

Saya sendiri tertarik ke Aceh karena tertarik dengan wisata tsunami aceh. Banyak sisa-sisa keganasan tsunami yang meluluhlantahkan Aceh pada Bulan Desember 2004 dan sampai sekarang masih dibiarkan begitu saja. Sebut saja ada kapal yang bertengger di atas rumah dan PLTD Apung, sebuah kapal raksasa yang karena dasaytnya Tsunami sampai terbawa ke tengah kota. Ada juga museum Tsunami Aceh yang sayang untuk dilewatkan. Di dalam museum Tsunami Aceh ini terdapat lorong gelap yang dapat kita coba untuk merasakan suasa mencekam di tanggal 26 Desember 2004 pagi hari kala itu ketika Tsunami datang.

Musuem Tsunami Aceh
Kapal di Atas Rumah
Saya juga sempat mengunjungi Masjid Raya  Baiturahman, Masjid terbesar di Aceh. Sayang pada waktu saja kesana sedang dilaksanakan perbaikan dan renovasi terutama renovasi di halaman selasar masjid sehingga kurang nyaman bagi jemaah jika hilir mudik di jalanan depan masjid untuk mengambil foto masjid. 

Di Dalam Masjid Baiiturrahman
Saya juga sempat mengunjungi rumah Cut Nyak Din, salah satu pahlawan wanita aceh yang dikenal gigih melawan penjajahan Belanda. Di rumah yang sekarang dijadikan sebagai museum inilah, Cut Nyak Din dan beberapa pengikutnya menyusun strategi melawan Belanda. Letak rumah Cut Nyak Din ini sangat gampang ditemui karena terletak di pinggir jalan raya kota Banda Aceh dan Pantai Lho-Nga. 
Rumah Cut Nyak Din

Tampak Samping Museum Rumah Cut Nyak Din
Karena saya ingin menikmati pantai yang bagus namun tidak terlalu jauh dari kota Banda  Aceh. maka saya memutuskan untuk mengunjungi Pantai Long-Nga di sisi barat kota Banda ACeh sekitar 40 menit sampai dengan 1 jam berkendara. Pantai ini merupakan daerah yang paling parah diterjang tsunami karena terletak di sisi barat aceh dan langsung menghadap Samudra Hindia. Masjid raya Long-Nga yang fotonya banyak beredar paska tsunami aceh, disebut-sebut sebagai satu-satunya bangunan yang masih kokoh berdiri walau diterjang tsunami aceh. Bagian dalam masjid yang retak-retak dan beberapa tiang yang roboh tetap dibiarkan seperti sedika kala sampai sekarang untuk mengingat kejadian tsunami tersebut.

Dalam Masjid Raya Long-Nga yang hancur diterjang Tsunami
 Masjid Raya Long-Nga 
Pantai Long-Nga
Pantai Long-Nga
Beberapa kuliner khas Aceh yang sempat saya coba seperti Mie Aceh, beberapa kue-kuean khas aceh, mie tarik, dan rujak aceh. memang kuliner aceh ini seperti mie aceh gampang ditemui di mana saja di daerah lain di Indonesia, namun merasakan sendiri mie aceh di temapt asalnya tentu memberikan sensasi tersendiri yang berbeda. hehe 

Mi Aceh

Rujak Aceh
Saya memang cukup singkat jalan-jalan kota Banda Aceh, hanya semalam saja saya di kota Banda Aceh, selanjutnya besoknya saya bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan kembali untuk menyebrang ke Pulau Weh dan menuju titik nol kilometer Indonesia di kota Sabang, Pulau weh.

Cerita saya selanjutnya pada waktu explore kota Sabang dan Pulau Weh dapat dilihat disini --> Sabang_PulauWeh

Senin, 29 Desember 2014

SEHARI DI KOTA SIAK

Setelah sebelumnya saya eksplore kota Pekanbaru selama dua hari  yang sudah saya posting di http://aufasidix.blogspot.com/2014/12/eksplore-pekanbaru.html, saya melanjutkan perjalanan kembali ke kota berikutnya, ke kota Siak.


Jembatan Siak
Kota Siak, memang terkenal sebagai kota wisata budaya melayu di provinsi Riau. Bisa ditempuh dengan jalur darat sekitar 3-4 jam dari kota Pekanbaru, namun transportasi yang paling praktis dan cepat bisa menggunakan moda transportasi air dengan speedboat menyusuri sungai siak dari Pelabuhan Duku di kota Pekanbaru menuju Pelabuhan Siak selama kurang lebih 2 jam saja. Saya sendiri memutuskan untuk menggunakan transportasi air alias speedboat demi efisiensi waktu, pun pemandangan di kanan kiri sungai juga sangat bagus.

Pelabuhan Duku Pekanbaru
Suasana di dalam speedboat
Jika ingin eksplore kota Siak lebih lama, saya sarankan ambil jadwal speedboat dari Pekanbaru paling pagi yakni jam 7.30 pagi sehingga sampai kota Siak masih pagi. Saya sendiri memutuskan ambil speedboat pagi dari pekanbaru dan kembali dari siak dengan speedboat paling sore yakni jam 4 sore dari Pelabuhan Siak dan sampai Pelabuhan Duku di Pekanbaru jam 6 petang. Saya tidak menginap di kota Siak dan memutuskan kembali ke kota Pekanbaru pada hari yang sama karena saya pikir banyak objek wisata di kota Siak justru dinikmati di siang hari dan saya rasa seharian penuh di kota Siak sudah cukup untuk eksplore tempat – tempat menarik di kota Siak.

Sungai Siak
Pemandangan Sungai Siak dari dalam Speedboat
Pemandangan Sungai Siak dari dalam Speedboat
Sepanjang perjalanan dengan menggunakan speedboat, banyak hal yang dapat saya amati, seperti aktivitas penduduk asli di sepanjang sungai, aktivitas bongkar muat kapal pengangkut hasil olahan kelapa sawit, minyak bumi, kayu hasil olahan hutan, dan sebagainya. Dan ternyata sepanjang perjalanan pekanbaru-siak selama 2 jam, speedboat juga berkali-kali berhenti untuk menurunkan dan menaikkan penumpang di pelabuhan-pelabuhan kecil. Transportasi air di provinsi Riau ini ternyata sudah menjadi alat transportasi vital dan utama dibanding transportasi darat terutama menuju daerah-daerah yang berdekatan dengan pantai seperti dumai, bengkalis, kepulauan meranti, dan siak.

Jalanan sepi di kota Siak
Pusat kota siak sendiri tidak jauh dari pelabuhan kota siak dan lebih beruntungnya lagi berbagai tempat wisata yang menarik juga terletak di pusat kota saja dengan jarak yang relatif dekat antara satu dengan yang lainnya. Sebut saja Istana Siak, Masjid Agung Siak, dan Jembatan Siak. Ketiganya masih berada di pusat kota Siak yang luasnya tidak seberapa. Lebih beruntung lagi waktu saya kesana cuaca sangat cerah sehingga saya bisa leluasa eksplore ke tempat – tempat tersebut seharian.

Di Dalam Istana Siak
Istana Siak
Istana Siak cukup kecil untuk ukuran istana, namun di dalamnya menyimpan berbagai koleksi peninggalan kesultanan siak yang merupakan cikal bakal dari lahirnya budaya melayu. Terdiri dari dua lantai, untuk masuk ke komplek istana harus melepaskan alas kaki. Waktu saya kesana, beberapa bagian di istana siak sedang direnovasi sehingga saya tidak bisa eksplore semua ruangan di istana siak.

Pelabuhan Siak
Kantor Bupati Siak

Rumah Dinas Bupati Siak
Tidak jauh dari istana siak, saya dengan menyewa betor melanjutkan perjalanan ke Jembatan siak yang sangat terkenal itu. Jembatan yang sangat megah. Jembatan ini seperti memisahkan bagian pusat kota siak menjadi dua yakni bagian pusat bisnis dan pemukiman di salah satu sisi dan bagian pusat pemerintahan tempat kantor bupati, dan gedung – gedung pemerintahan di sisi lain jembatan. Saya memutuskan untuk menyeberangi jembatan karena penasaran dengan apa yang ada di balik jembatan. Ternyata benar terdapat komplek kantor bupati dan DPRD serta kantor – kantor pemerintahan yang lain yang sangat megah dan besar, agak kontras dengan pemukiman warga yang sederhana di sisi lain sungai. Hmmm..

Sup Tunjang Khas Siak. Yummy :)
Pusat Jajanan di pinggiran sungai Siak
Sebelum bertolak kembali ke kota Pekanbaru, menikmati senja di kota Siak saya habiskan dengan kulineran di pinggiran sungai siak sambil memandang jembatan siak dan kapal yang lalu lalang di sepanjang sungai. Banyak rumah makan di pinggirian sungai ini yang ditata dengan apik dan kita bisa memilih untuk duduk di dekat sungai atau di dalam rumah makan. Letaknya pun berdekatan dengan pelabuhan siak sehingga saya tidak perlu khawatir ketinggalan speedboat kembali ke kota Pekanbaru. Salah satu kuliner yang saya coba yakni Sup Tunjang. Penasaran bagaimana rasanya? Silahkan coba sendiri di kota siak? Hehe :D

Sabtu, 27 Desember 2014

REHAT SEJENAK DI JAMBI

Rumah Adat Jambi, Taman Rimba
Berbekal tiket promo super murah dari Citil*nk sebesar Rp 113ribu Jakarta-Jambi PP, jalan-jalanlah saya ke Jambi pada tanggal 14-17 November 2013 yang lalu. Sebetulnya agak sedikit nekat saya karena ketika memutuskan untuk pergi ke Jambi, saya sebetulnya kurang begitu tahu kira-kira objek wisata apa saja yang bakal saya temui selama berada di Jambi. Yang saya tahu waktu itu hanyalah candi muaro jambi dimana info mengenai wisata ke candi tersebut juga masih sangat minim. Tiket sudah di tangan dan setelah riset kesana kemari, tanya orang yang pernah ke Jambi, ternyata banyak juga tempat menarik yang patut kita kunjungi jika berkunjung ke Jambi. Saya pun memutuskan menghabiskan 3 hari 2 malam di kota Jambi. waktu yang tidak terlalu lama namun cukup untuk eksplore Jambi.

Bandara Sultan Thaha Jambi
Kantor Gubernur Jambi
Tidak jauh dari Bandara Sultan Thaha Jambi, hanya berjarak sekitar 500 meter saja dari pintu keluar bandara, terdapat Kawasan Taman Rimba dimana terdapat anjungan rumah adat dari semua kota/kabupaten se propinsi jambi, cuma sayangnya tempat ini tampak terlantar, padahal kalau dikelola dengan baik, saya yakin pasti bisa menarik banyak wisatawan. Rumah - rumah adat yang terdapat di Taman Rimba ini bagus sebetulnya dan sangat tradisonal, hanya saja kurang terawat. Padahal letaknya yang hanya sejengkal dari Bandara seharusnya bsia menjadikan tempat ini sebagai magnet bagi turis yang ingin ke Jambi. 

Selain itu di kawasan taman rimba ini juga terdapat Kebun Binatang Taman Rimba. Pada waktu saya kesini sedang ada proyek perluasan Bandara Sultan Thaha Jambi. Tidak heran kalau PT Angkasa Pura berniat menyatukan antara Bandara dengan kebun binatang yang sebelumnya memang sudah ada karena lokasinya yang sangat berdekatan. Saya sendiri tidak masuk ke kebun binatangnya karena memang kurang begitu berminat. Hanya lihat-lihat saja dari luar. hehe! 

Persewaan Sepeda di Muaro Jambi
Komplek Candi Muaro Jambi
Masuk Komplek Muaro Jambi
Salah satu objek wisata yang tidak boleh kita lewatkan jika jalan-jalan ke Jambi adalah eksplore Candi Muaro Jambi. Untuk eksplore seluruh candi yang ada di komplek candi muara takus bisa menghabiskan waktu seharian sendiri. Hari kedua di Jambi saya gunakan untuk eksplore komplek candi muaro jambi. Komplek candi yang disebut-sebut lebih besar daripada komplek candi angkor wat di Kamboja ini letaknya memang agak keluar kota dari kota Jambi sekitar 30-40 menit berkendara dari Jambi. Namun jelas candi ini sebagai tempat yang “must see” jika kita ke Jambi. Kita bisa sewa sepeda untuk keliling komplek candi yang sangat luas. Begitu masuk ke kawasan candi utama, berjejer para penyedia jasa rental sepeda. Candi-candi di dalam komplek candi muara takus sebetulnya tidak terlalu luas, hanya saja letaknya tersebar dan saling berjauhan. Butuh seharian jika ingin keliling seluruh komplek candi muara takus, praktis saya menghabiskan seharian sendiri di sini. 
Balairung Sari
Hari berikutnya, saya memutuskan untuk eksplore pusat kota Jambi saja. Banyak tempat menarik yang bisa didatangi di pusat kota. Bisa juga ke Balairung Sari yang merupakan bangunan lembaga adat melayu jambi. Waktu saya kesini beruntung sedang diadakan resepsi pernikahan khas Jambi di aulanya. Saya pun ikut menyaksikan karena penasaran dengan resepsi pernikahan khas jambi. Hehe!
Pernikahan Adat Jambi

Pernikahan Adat Jambi
Ada pula Jembatan sungai Batanghari yang membuat kota jambi terpisah menjadi pusat Kota Jambi dan Seberang kota Jambi (Sekoja). Sungai batanghari menjadi urat nadi perekonomian dan aktivitas sehari-hari warga jambi. Banyak warga yang bemukim di sekitaran sungai terutama di kota Jambi seberang.
Taman Anggrek Sri Soedewi
Menara Air
Masih di kawasan sungai batanghari, terdapat Kawasan Wisata Tanggo Rajo (penduduk setempat menyebutnya kawasan ancol) di pinggiran sungai batanghari, tempat muda-mudi kota Jambi kongkow-kongkow menjelang sore dan malam hari, tepat di depan kawasan rumah dinas gubernur Jambi. Di kawasan Tanggo Rajo ini terdapat Jembatan Gantung yang dibuat khusus untuk pejalan kaki yang ingin berwisata ke Kota Jambi Seberang (Sekoja). Namun sayang waktu saya kesana, jembatan ini masih berupa pondasinya saja dan belum selesai. Mungkin sekarang sudah jadi. Banyak warga yang sekedar duduk-duduk atau bahkan memancing di tangga rajo ini. Memang ada ikannya ya, airnya keruh begitu?? Hehe!
Gerbang Taman Anggrek Sri Soedewi 
Salah satu ikon kota Jambi yang wajib dikunjungi dan tidak boleh dilewatkan tentu saja Masjid “1000 Tiang” Al-Falah yang merupakan masjid terbesar di Kota Jambi. Disebut masjid 1000 tiang karena memang masjid ini memiliki banyak sekali tiang yang dapat langsung dilihat dari luar masjid. Takjub saya dibuatnya. Eng, saya tidak sempat menghitung jumlah tiangnya sih apakah benar ada seribu atau tidak. Hehe.:D
Masjid 1000 tiang Al Falah
Bisa juga ke Danau Sipin, danau yang bersebelahan dengan Sungai Batanghari dan tidak jauh dari pusat perkantoran provinsi Jambi walaupun menurut saya danau ini biasa-biasa saja sih. Danau yang terbentuk karena aliran sungai Batanghari yang terbendung sehingga membentuk semacam danau kecil.

Danau Sipin
Di sekitaran komplek kantor Gubernur Jambi, juga banyak tempat yang bisa dikunjungi seperti Taman Anggrek Sri Soedewi yang tepat berada di depan kantor Gubernur Jambi. Masuk taman anggrek ini untungnya gratis :).  Saya bukan penggemar anggrek sebetulnya, hanya ingin mengobati rasa penasaran saya saja. Bagi pencinta bunga anggrek, sepertinya tempat ini cocok untuk dieksplore. 
Memancing di Sungai Batanghari
Untuk kuliner khas jambi lebih mirip provinsi tetangganya seperti lempuk durian yang mirip dengan bengkulu dan pempek yang mirip sumatera selatan. Namun tetap saja rasanya beda. Salah satu pempek yang saya coba dan direkomendasikan banyak orang yakni pempek selamat yang konon sudah ada 10 outlet di Jambi. Beberapa kuliner yang lain yang sempat saya coba seperti sapo mie yang dihidangkan masih dalam keadaan sangat panas dan mie hijau. Ternyata banyak kuliner menarik juga di Jambi, tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Yummy! 
Mie HIjau dan Mie Merah

Sapo Mie
Pempek Selamat
Pancake Durian
Kota Jambi, kota yang menurut saya lumayan sepi dan kecil jika di bandingkan dengan ibukota provinsi di provinsi tetangganya seperti Pekanbaru atau Palembang, namun tetap menyimpan potensi wisata yang luar biasa seperti komplek candi muara takus yang seharusnya bisa dikelola lebih baik lagi.Pun di pusat kotanya juga banyak tempat menarik yang bisa dieksplore. Jika kalian punya waktu lebih banyak lagi, kalian bisa mampir ke kabupaten sekitarnya seperti kabupaten kerinci yang menyimpan banyak sekali wisata alam menarik atau bercengkerama dengan suku anak dalam jambi yang belum sempat saya lakukan kemarin. Lets go to Jambi! ^_^