Sabtu, 14 Februari 2015

MINANG TRIP DAY 8 & DAY 9 - SAWAHLUNTO

Beberapa tahun silam, kota Sawahlunto tidak banyak dikenal orang. Kota yang bahkan mulai ditinggalkan penduduknya yang kebanyakan bekerja sebagai penambang batubara karena hasil dari tambang batubara yang terus menurun. Namun kini, kota Sawahlunto dapat menyulap diri menjadi salah satu tujuan wisata favorit di Sumatra Barat. Dengan mengusung konsep kota wisata tambang, bekas tambang batubara yang sudah terlantar pun bisa diubah menjadi tempat tujuan wisata yang menarik. Salut buat pemerintah kota Sawahlunto.
Masuk kota Sawahlunto

Sehari sebelumnya saya eksplore kota Painan terlebih dahulu kemudian mampir sejenak di kota Padang untuk kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke kota Sawahlunto. Perjalanan saya waktu eksplore kota Painan dapat dilihat di postingan saya sebelumnya di sini : http://www.aufasidix.blogspot.com/2015/02/minang-trip-day-6-day-7-painan-pesisir.html
Gereja di Sawahlunto
PT Bukit Asam, Sawahlunto
Perjalanan saya ke sawahlunto dari kota Padang memakan waktu sekitar 3 jam melewati kota Solok. Kota Sawahlunto sendiri berbentuk seperti periuk raksasa dimana untuk masuk ke kota ini, kita harus menuruni jalan yang menurun secara melingkar terus – menerus sampai ke pusat kota Sawahlunto yang berada di bawah. Banyak sekali tempat wisata menarik yang bisa didatangi di kota tambang ini sehingga saya memutuskan untuk menghabiskan 2 hari 1 malam di Sawahlunto.

Memutuskan bermalam di kota Sawahlunto berarti harus menentukan dimana tempat yang nyaman buat bermalam? Apakah kota sekecil ini sudah mempunyai hotel? Pemerintah kota Sawahlunto menyadari bahwa kotanya tidak mempunya banyak hotel namun sudah mulai banyak turis berdatangan sehingga pemerintah kota Sawahlunto pun bekerjasama dengan warga untuk menyediakan homestay bagi wisatawan. Saya termasuk yang diuntungkan dengan banyaknya homestay yang tersebar di berbagai sudut kota ini, pun akhirnya saya memilih menginap di homestay yang berada tidak jauh dari lokasi tambang batubara mbah suro. Biaya menginap standar sekitar 150-200ribu untuk dua orang termasuk sarapan, namun jika sendirian bisa dinegosiasikan sama pemilik homestaynya. Memilih menginap di homestay kepunyaan warga lokal sekaligus bisa berbaur dan melihat langsung aktivitas penduduk lokal.

Stasiun Sawahlunto
Masjid Sawahlunto
Pasar Sawahlunto
Salah satu wisata utama di Sawahlunto adalah kereta wisata “Mak Itam” yang dulu sering digunakan untuk mengangkut hasil batubara ke kota Padang dan sempat tidak beroperasi namun kini dihidupkan kembali sebagai kereta wisata. Sayang waktu itu keretanya sedang dalam perbaikan sehingga saya tidak bisa mencoba sensasi menaiki kereta pengangkut batubara ini. Di stasiun Sawahlunto juga terdapat museum Kereta Api dimana kita bisa belajar dan mengetahui bagaimana dulu hasil tambang batubara dari Sawahlunto diangkut ke kota Padang pada zaman penjajahan Belanda.

Kawasan kota tuanya pun ditata dengan sedemikian cantik.  Kota kecil dan masih dalam walking distance.  Ada Gondam Ransum, yakni bekas dapur raksasa pada waktu orang jawa dibawa kesini untuk dijadikan budak dan dipaksa bekerja di tambang batubara. Orang – orang ini lah yang disebut dengan “Manusia Rantai”, karena ketika mengangkut hasil tambang mereka dirantai satu dengan lain agar tidak bisa kabur. Tidak heran di kota ini sebetulnya banyak sekali warga keturunan jawa namun mungkin sudah tidak fasih lagi bahasa jawa, namun dengan bahasa “campuran” minang jawa yang menjadi bahasa yang unik. Bahkan ada kamusnya tersendiri untuk bahasa unik ini. Bahasa jawa bukan, bahasa minang pun bukan.  Penasaran??


Gondam Ransum

Gondam Ransum
Menghabiskan malam di kota Sawahlunto ternyata sangat mengasyikkan. Bisa kulineran di taman di depan kantor bukit asam atau menonton film di bioskop 4D. Ya, siapa sangka kalau ternyata di kota sekecil ini terdapat bioskop yang menampilkan film 4D seperti wahana film 4D di dunia fantasi Jakarta. Seru! Jalan kaki di kawasan downtown pun sangat menyenangkan, hanya saja jika sudah lewat jam 10 malam mungkin jalanan sudah sepi dan tidak terlalu ramai.


Habis Nonton Film 4D :)
Keesokan paginya, pagi-pagi sekali saya memutuskan untuk pergi ke Puncak Polan, sebuah puncak yang berada di atas sebuah bukit dan bisa melihat pemandangan kota sawahlunto dari atas. Niat awal sih ingin melihat sunrise dari atas puncak ini, apa daya waktu itu sedang dalam kondisi berkabut tebal. Di Puncak pun tidak kelihatan apa-apa.

Night Market
Sebelum berkemas dan meninggalkan kota Sawahlunto, saya memutuskan untuk mencoba wisata tambang dan masuk ke lokasi tambang batubara terkenal “mbah suro” karena letaknya yang di depan homestay saya. Awalnya sempat ragu, apakah lokasi tambang ini aman, dan mengingat cerita mengenai zaman perbudakan terhadap pekerja di tambang ini hampir mengurungkan niat saya. Namun ternyata untuk masuk ke dalam tambang batu bara, ada guide khusus yang menemani dan harus memakai peralatan khusus (topi dan senter). Kita pun diajak berdoa dulu sebelum masuk tambang. Sayang tidak boleh foto-foto di dalam tambang, namun sensasi berada di kedalaman dan kegelapan tambang sangat luar biasa dan sulit dilukiskan dengan kata-kata. Guide yang menemani saya bahkan pernah cerita pernah ada seorang pengunjung yang tiba-tiba langsung menangis ketika berada di dalam. Wallahu alam!

Siap-siap masuk lubang tambang mbah suro
Bekas Tambang Batubara Mbah Suro
Sawahlunto, kota kecil yang tenang namun bikin betah siapapun yang datang kesana karena suasananya yang tenang dan tentram. Jika memutuskan untuk wisata ke kota Sawahlunto, pasatikan menginaplah  minimal semalam. Trust me! :)

Jumat, 13 Februari 2015

MINANG TRIP DAY 6 & DAY 7 - PAINAN PESISIR SELATAN

Pemandangan dari puncak bukit mandeh, Pesisir Selatan
Ini merupakan lanjutan cerita saya sebelumnya pada waktu explore seluruh kota/kabupaten di ranah minang setelah sebelumnya saya sempat eksplore kota Padang Pariaman dan kemudian mampir sebentar di kota Padang kemudian lanjut ke kota Painan di Kabupaten Pesisir Selatan.

Cerita saya sebelumnya pada waktu eksplore kota Padang Pariaman dapat dilihat disini : http://www.aufasidix.blogspot.com/2015/02/minang-trip-day-5-padang-pariaman.html


Kota Painan, ibukota Kabupaten Pesisir Selatan, di Sumatra Barat terkadang sering terlupakan dari destinasi wisata favorit para wisatawan yang melancong ke Ranah Minang. Selama ini jalur wisata Sumatera Barat didominasi pada bagian utara, seperti rute Padang-Bukittinggi-Batusangkar-Payakumbuh atau jalur Padang-Pariaman-Lubuk Basung-Maninjau, ditambah satu jalur timur yang masih belum banyak dikunjungi, yakni rute menuju wisata tambang Kota Sawahlunto melewati kota solok. Sedangkan rute ke Selatan yaitu ke kota Painan jarang sekali dikunjungi. Padahal potensi wisata daerah ini tak kalah bagus dibanding bagian lain di Sumatera Barat. Bahkan bisa dibilang, objek-objek wisata di daerah ini bisa dikatakan lebih asri dan masih belum banyak dijamah oleh tangan manusia. Untuk menuju ke Painan dari kota Padang, harus melewati jalur teluk bayur dan pantai bungus di selatan kota Padang. Jalur ini merupakan satu-satunya jalur untuk mencapai daerah Painan. Artinya, untuk ke Painan, kita memang harus betul-betul berniat ke Painan.

Ikan Larangan
Pondok Ikan Larangan
Banyak tempat menarik di sepanjang jalan menuju kota Painan yang berjarak kurang lebih 2 jam perjalanan darat dari kota Padang ke arah Selatan. Di kecamatan Tarusan ada pondok ikan larangan, dimana ikan larangan yang tambak besar-besar dan bergerombol dalam jumlah banyak tersebut banyak terlihat dari permukaan sungai yang mengalir namun tidak boleh diambil. Saya memutuskan untuk mampir sebentar di pondok ikan larangan ini yang letaknya tepat di samping jalan Padang-Painan. Sambil istirahat sejenak dan memberi makan ikan larangan di permukaan sungai dari atas pondok. Seru!

Persawahan di Pesisir Selatan
Pemandangan Pulau Cubadak dari Bukit Mandeh
Ada bukit mandeh dimana dari atas bukit ini kita bisa leluasa melihat pemandangan laut lepas dengan latar belakang pulau cubadak. Dari jalan raya Padang-Painan masih masuk ke dalam sekitar 5 km melewati persawahan penduduk dengan kerbau dan sekumpulan burung kuntul yang mengelilinginya. Tidak butuh waktu lama untuk menuju puncak bukit mandeh. Jalan beraspal dengan sedikit bergelombang sepanjang jalan menuju puncak bukit. Indah sekali pemandangan dari atas. Apalagi waktu itu cuaca sangat cerah dan nyaris tidak berawan. Bukit mandeh ini kalau dalam bahasa minang artinya bukit ibu. Entah apa maksudnya.

Pantai Nelayan di Pesisir Selatan

Jembatan Gantung dari Kayu

Sepanjang perjalanan ke arah kota Painan pun kita akan menyusuri jalan pinggir laut sehingga banyak pantai-pantai cantik yang sayang untuk dilewatkan. Sempat mampir ke beberapa pantai dan desa nelayan yang jaraknya hanya sejengkal saja dari jalan raya.  Sebelum sampai kota Painan, tepatnya sekitar 17 km sebelum kota Painan, ada jembatan akar yang telah berusia ratusan tahun. Jembatan akar ini pulalah yang menjadi ikon wisata kabupaten Pesisir Selatan dan wajib untuk dikunjungi. Agak jauh masuk ke dalam dari Jalan utama, jembatan akar ini begitu kokoh membelit satu sama lain sehingga membentuk sebuah jembatan yang hingga kini masih sering dilalui orang lewat di atasnya. Terkahir kali saya menjumpai jembatan akar sejenis berada di pedalaman suku baduy dalam di kanekes, Lebak, Banten.

Aktivitas Parasailing di Puncak Langkisau, Painan
Di Kota Painan sendiri terdapat banyak tempat menarik yang sempat saya kunjungi diantaranya pantai carocok yang berada tepat di kota Painan tidak jauh dari pusat kota yang merupakan tipikal pantai kota yang sering dikunjungi warga di sore hari. Sembari melihat berbagai aktivitas warga, bisa mencoba warung – warung yang menjual aneka seafood di pinggir pantai.

Kantor Bupati Pesisir 
Tempat menarik lainnya yang sempat saya kunjungi yakni puncak langkisau. Puncak bukit yang berada tepat di pinggir pantai dimana naiknya tidak jauh dari pantai carocok. Nah, dari puncak langkisau ini, kita bisa melihat pemandangan lepas pantai kota Painan. Di puncak langkisau ini pulalah, sering diadakan aktivitas olahraga gantole dan parasailing.  Dan kebetulan sekali pada waktu saya kesini, menjelang matahari terbenam dan ada beberapa aktivitas parasailing yang menarik sekali untuk dilihat. Setahu saya hanya ada tiga tempat parasailing yang dibuka untuk umum yakni di puncak bogor, di kota Batu, dan di kota Painan ini. Bedanya, parasailing di kota Painan ini, tepatnya di atas puncak langkisau langsung menghadap ke laut, sehingga menimbulkan sensasi yang luar biasa.
Air Terjun Timbulun

Pesta Durian Painan :)
Masih di kawasan kota Painan, terdapat air terjun timbulun. Air terjun berundak dengan air yang tidak begitu deras namun sangat tinggi dan  asyik buat berenang atau mandi di kolam di bawahnya. Waktu saya kesana hari sudah cukup sore dan banyak warga sekitar yang ikutan mandi di air terjun ini. Malam di Painan saya habiskan dengan berburu durian. Hehe! Kota Painan dan Kabupaten Pesisir Selatan memang indah. Masih banyak wisata alam yang masih sangat asri disini. Sudah seharusnya jika kita jalan-jalan ke ranah minang, kota Painan dan Kabupaten Pesisir Selatan dimasukkan dalam list tempat yang wajib untuk dikunjungi.