Selasa, 10 Oktober 2017

MENYAPA PULAU ROTE, TITIK PALING SELATAN INDONESIA

Bukit Mando'o, Rote
Pulau Rote, masuk wilayah Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Merupakan pulau paling selatan di Indonesia. Bahkan lokasinya lebih dekat dengan kota Darwin di Australia dibandingkan dengan Ibukota Jakarta. Perjalanan saya menuju Pulau Rote sendiri sebetulnya bisa dibilang dadakan. Ide untuk ke Pulau Rote muncul ketika saya dengan beberapa teman dari Kupang sedang kongkow di salah satu kafe di kota Kupang ketika saya mengunjungi kota Kupang, dan salah seorang teman tiba-tiba mencetuskan rencana untuk jalan-jalan ke Pulau Rote. Saya yang pada waktu itu memang sedang transit saja di kota Kupang selama 2 hari setelah sebelumnya eksplore Flores dan sambil menunggu waktu kembali ke Jakarta, segera menyetujui ide untuk jalan-jalan ke Pulau Rote tersebut. Hasil googling singkat, ternyata banyak juga objek wisata di Pulau Rote yang bisa saya kunjungi.

Ada dua cara untuk menuju Pulau Rote dari kota Kupang, yakni dengan pesawat maupun kapal. Saya memilih menggunakan ferry atau kapal lambat menuju Pulau Rote dari Pelabuhan Bolok, Kupang pagi-pagi sekali. Perjalanan dari Kupang ke Pulau Rote dengan ferry memakan waktu sekitar 4-5 jam. Sebetulnya ada pilihan yang lebih cepat dengan harga yang tidak terlalu mahal yakni dengan menggunakan speedboat atau kapal cepat yang dapat ditempuh dalam waktu 2 jam saja. Karena saya juga tidak terlalu terburu-buru akhirnya saya memilih mengkombinasikan moda transportasi yakni menuju pulau rote dengan kapal ferry dan nanti pulang kembali ke kota Kupang menggunakan kapal cepat agar dapat merasakan pengalaman yang berbeda. Setelah 5 jam perjalanan, ferry yang saya naiki akhirnya berlabuh di pelabuhan Pantai Baru, Rote. Dari pelabuhan Pantai Baru menuju kota Ba’a, Ibukota Kabupaten Rote Ndao masih sekitar 1 jam lagi berkendara.

Bersama teman-teman di bukit mando'o
Pilihan terbaik untuk eksplore Pulau Rote tentu saja dengan menggunakan kendaraan sendiri, bisa dengan sewa sepeda motor atau mobil di beberapa hotel di kota Ba’a yang menawarkan jasa rental kendaraan. Saya bersama dengan lima orang teman dari Kupang memutuskan untuk mengunjungi salah seorang teman satu lagi yang memang tinggal di Pulau Rote dan bersama-sama eksplore pulau Rote. Kesan pertama saya terhadap pulau Rote adalah gersang dan berdebu, apalagi waktu itu sedang banyak sekali pengaspalan dan pembukaan jalan baru sehingga wajib hukumnya memakai masker jika menggunakan sepeda motor karena jalanan yang berdebu. Banyak sekali sabana atau padang rumput dengan sapi atau bahkan kuda liar yang dengan bebasnya merumput. Saya tidak menyangka jika ternyata di Indonesia juga ada sabana yang sangat luas seperti itu. Sungguh pemandangan yang sangat memanjakan mata. Jika kita memutuskan untuk berkendara sendiri untuk menjelajahi pulau rote, maka hal yang patut diwaspadai ialah banyaknya babi yang terkadang menyeberang ke jalan dengan tiba-tiba sehingga kita harus ekstra waspada agar tidak menabrak babi-babi tersebut yang memang biasanya dilepas begitu saja sama warga.

Hari sudah cukup siang ketika saya tiba di Pulau Rote. Saya dengan beberapa teman memutuskan untuk tidak menyia-nyiakan waktu dan segera tancap gas untuk menuju objek wisata pertama kami yakni Bukit Mandoo atau lebih dikenal oleh penduduk setempat dengan tangga tiga ratus. Merupakan titik paling selatan pulau Rote dan dari atas Bukit Mandoo ini terlihat jelas samudra hindia dengan ombaknya yang tinggi. Sempat tersesat beberapa kali karena kami hanya menggunakan navigasi dari google map dan jalan menuju kesana pun masih berupa jalan kecil serta sebagian belum diaspal. Pemandangan dari atas bukit sangatlah indah dan tampak beberapa gugusan pulau karang yang hanya nampak saat air laut sedang surut.

Pantai Nemberala
Pasir Merica Pantai Nemberala
Menunggu sunset di Pulau Rote
Menjelang sore hari, kami segera bergegas menuju Pantai Nemberala, salah satu pantai favorit untuk surfing sekaligus hunting sunset. Pantai Nemberala ini cukup terkenal di kalangan turis asing dengan banyaknya resort di kawasan pantai ini. Sunset disini bisa dibilang memang sangat sempurna karena pantai ini menghadap ke arah barat dan langsung berhadapan dengan samudra hindia. Ombak yang besar dan pasir yang khas berukuran sebesar merica merupakan ciri khas dari Pantai Nembrala.

Hari Kedua di Pulau Rote, saya sempatkan untuk mengunjungi kawasan wisata Batu Termanu, sebuah batu raksasa yang berada di pinggir pantai. Menuju Batu Termanu ini juga sangat mudah karena terletak tidak jauh dari jalan utama dari kota Ba’a menuju pelabuhan pantai baru. Suasana sangat sepi ketika saya sampai batu termanu karena hari masih pagi namun cuaca sudah cukup panas dan terik. Apalagi kontur tanah di Pulau Rote yang gersang dan kering. Namun gradasi warna birunya laut dengan sabana yang sangat luas di sekitar batu termanu menyajikan pemandangan yang membuat saya betah berlama-lama disitu.

Pantai Tiang Bendera
Pantai Tiang Bendera
Menjelang siang, saya segera bergegas menuju kota Ba’a. Tujuan saya kali ini adalah ke pantai tiang bendera yang terletak tidak jauh dari kota Ba’a. Pantai Tiang Bendera sering dijuluki  sebagai tanah lot-nya pulau rote karena gugusan bukit karang yang berserakan di Pantai. Apalagi jika pantai sedang surut, maka bukit karang tersebut nampak menjulang tinggi di bibir pantai. Letaknya yang tidak jauh dari kota Ba’a menjadikan pantai ini sebagai pilihan yang tepat untuk melihat sunset tanpa harus bersusah payah untuk menuju ke pantai tersebut.

Sabana di Pulau Rote

Sapi-Sapi Pulau Rote yang dibiarkan berkeliaran
Kuda-Kuda liar pulau Rote
Pulau Rote terkenal dengan budidaya lontarnya yang biasa dibuat alat musik sasando dan topi adat Ti’i Langga yang sudah sangat terkenal sampai ke mancanegara. Bahkan bentuk kantor bupati Rote Ndao menggunakan simbol topi adat Ti’i Langga yang merupakan topi adat kebanggaan warga rote. Saya sendiri berkesempatan untuk melihat langsung proses pembuatan topi adat Ti’i Langga ini di salah satu rumah warga setempat yang merupakan pengrajin topi Ti’i Langga. Sedangkan alat musik sasando digunakan sebagai bentuk bangunan kantor gubernur NTT yang megah yang terletak di kota Kupang.

Bersama Pengrajin Topi Ti'i Langga
 Sebetulnya masih banyak tempat di pulau Rote yang ingin saya jelajahi seperti pantai Inaoe dan pantai oseli yang tersembunyi dan lebih sepi. Namun karena keterbatasan waktu, saya pun harus segera kembali ke kota Kupang untuk mengejar pesawat kembali ke Jakarta. Pulau Rote yang sekilas tampak kering dan gersang, ternyata juga menyajikan pemandangan yang sangat indah dengan padang sabananya yang luas dan pantai-pantainya yang berombak besar dan berpasir putih.

Kamis, 06 Oktober 2016

VANG VIENG, LAOS

Panorama Vang Vieng
Vang Vieng, kota kecil yang terletak di sebelah utara kota Vientiane ini terkenal dengan wisata alamnya. Saya yang memang suka dengan wisata alam memasukkan Vang Vieng ke dalam list yang wajib dikunjungi selama saya eksplore negara Laos. Setelah sehari sebelumnya saya explore kota Vientiane. Dengan memakai minivan dari North Bus Terminal di kota Vientiane, perjalanan ke kota Vang Vieng memakan waktu sekitar 3-4 jam dengan kondisi jalan yang tidak terlalu ramai walau masih ada beberapa bagian jalan yang kondisinya masih rusak padahal jalan utama negara tersebut.

Disebut sebagai kota sebetulnya juga kurang begitu tepat karena Vang Vieng sendiri cukup kecil dan kebanyakan diisi dengan homestay atau hotel-hotel yang bertebaran di pinggir sungai Nam Song, sungai utama yang membelah kota Vang Vieng. Waktu saya sampai di Vang Vieng, hari sudah cukup sore namun karena masih cukup terang dan cuaca sangat cerah, saya pun segera menyewa sepeda di depan hostel tempat saya menginap untuk eksplore Vang Vieng. Sewa sepeda atau sepeda motor merupakan pilihan yang tepat jika ingin eksplore Vang Vieng. Harganya pun murah.

Balon Udara di Vang Vieng
Ada banyak aktivitas menarik yang bisa dilakukan di Vang Vieng seperti zip line, berenang di blue lagoon, kayaking atau rafting di Sungai, Tubing, Caving ke beberapa goa atau bahkan melakukan rock climbing di beberapa bukit karst yang tersebar di banyak tempat di Vang Vieng. Jika ingin melakukan aktivitas seru lainnya yang jarang ada di tempat lain yakni bisa mencoba untuk naik balon udara dan menikmati indahnya panorama Vang Vieng dari ketinggian. Sepertinya butuh waktu minimal seminggu di Vang Vieng jika ingin menikmati dan melakukan semuanya. Saya yang hanya menghabiskan waktu dua hari satu malam di Vang Vieng pun harus memilih dan tidak bisa melakukan semuanya.

Wat Kang
Para penjaja bunga di depan Wat

Wat Kang tampak luar
Dengan mayoritas masyarakat Laos beragama Budha, maka banyak wat yang bertebaran di Laos termasuk di Vang Vieng. Ada setidaknya dua wat utama yang ada di Vang Vieng, yakni Wat Kang dan Wat That. Saya menyempatkan diri mengunjungi Wat Kang yang cukup besar meskipun pada waktu saya kesana sudah cukup sepi. Mungkin karena terlalu sore waktu itu.

Ada salah satu tempat menarik di Vang Vieng untuk dikunjungi yakni Blue Lagoon atau orang lokal menyebutnya Tham Poukham, sekitar 7 km dari pusat kota Vang Vieng. Banyak wisatawan yang berenang di Blue Lagoon atau mencoba sensasi melompat dari atas pohon ke dalam Blue Lagoon. Memang agak jauh namun saya menyewa sepeda motor jadi hanya membutuhkan waktu 15 menit saja kesini. Untuk menuju kawasan Blue Lagoon ini harus melewati jembatan kayu yang membelah sungai Nam Song. Untuk melewati jembatan ini anehnya saya harus bayar. Meskipun menggunakan karcis resmi, namun rasanya aneh saja jembatan yang merupakan fasilitas umum harus bayar untuk melewatinya.

Jembatan Kayu 
Blue Lagoon
Makanan dari Sarang Lebah

Untuk kuliner tidak banyak pilihan yang saya temui. Sejak dari kota Vientiane pun saya agak sedikit kesulitan menemukan makanan otentik khas Laos. Apalagi di kota Vang Vieng yang penuh dengan warga asing sehingga banyak restoran berkonsep western disini. Ada jajanan unik yang saya temui waktu di Vang Vieng. yakni makanan dari sarang lebah yang dibungkus pelepah pisang dan dibakar. Rasanya agak aneh sih. hehe

Selain terkenal dengan wisata alamnya, Vang Vieng juga terkenal oleh wisatawan dengan partynya. Banyak Pub, Bar, atau Club yang bertebaran di pinggiran sungai. Menghabiskan malam di Vang Vieng bisa dilakukan dengan nongkrong-nongkrong di banyak bungalow atau cafe-cafe di pinggir sungai. Malam di Vang Vieng memang sangat meriah.  Banyak bar dengan musik yang memekakkan telinga bahkan di depan persis hostel tempat saya menginap.





Vang Vieng memang cantik alamnya. Saya memang hanya menghabiskan waktu dua hari satu malam di Vang Vieng. Sangat singkat memang namun cukup banyak yang saya lakukan disini. waktu di Vang Vieng seolah berjalan dengan sangat lambat karena semua orang santai. Saya pun harus mengakhiri perjalanan saya di Vang Vieng dan kembali ke kota Vientiane untuk kembali ke Indonesia

Panorama Vang Vieng dan Sungai Nam Song dengan latar belakang pegunungan karst
Ada kesalahan di dalam gadget ini