Kamis, 24 Juli 2014

EKSPLORE BATAM

Welcome to Batam
Pada tanggal 6 - 7 Oktober 2012, Jalan-jalan sendirian yang cukup singkat saya ke Pulau Batam, hanya 2 hari 1 malam saja namun sebetulnya efektifnya hanya sekitar 24 jam saja. Sangat singkat memang, tapi lumayan cukup banyak yang sempat saya kunjungi selama di pulau Batam. Pernah dalam kesempatan sebelumnya saya menginjakkan kaki di Pulau Batam, namun pada saat itu saya tidak sempat “mencicipi” Pulau Batam barang sejenak karena langsung melanjutkan perjalanan ke Pulau Bintan di seberangnya. Di kesempatan yang kedua ini saya mencoba untuk eksplore Pulau Batam lebih lama.

Menuju Jembatan Barelang
Pedagang Kaki Lima di Atas Jembatan Barelang
Berbekal informasi yang sudah saya kumpulkan sebelumnya dari internet dan dari berbagai sumber, begitu mendarat di Bandara Hang Nadim, Batam, saya langsung cabut ke Jembatan Barelang di ujung selatan pulau Batam yang jaraknya sekitar 1 jam perjalanan dari bandara, icon Pulau Batam yang sangat terkenal itu. Dinamakan jembatan barelang karena merupakan akronim dari Pulau – Pulau yang dihubungkan jembatan ini yakni Batam, Rempang, dan Galang. Jembatan yang sangat mewah, menghubungan antara Pulau Batam dengan Pulau Rempang di sebelahnya, namun kemewahan jembatan itu seakan sangat kontras dengan banyaknya penjual kaki lima yang “nangkring” di atas Jembatan membuat lalu lintas kendaraan di tengah jembatan menjadi sedikit tersendat. Sangat disayangkan sebetulnya. Icon kebanggaan kota Batam ini seakan menjadi tempat wisata dadakan bagi warga sekitar. Pemandangan laut lepas dari atas Jembatan Barelang memang menajubkan.

Coastarica Batam
Kota Batam merupakan kota yang cukup modern. Pemerintah kota Batam sadar betul dengan letak pulau Batam yang sangat strategis di samping pulau Singapore. Maka tidak heran banyak sekali mall dan pusat perbelanjaan di kota ini. pusat - pusat hiburan pun banyak di bangun di beberapa sudut kota salah satunya Coastarica dan Batam Miniature House di daerah Bengkong, Batam.Coastarica / costarica merupakan salah satu tempat arena bermain dengan panggung - panggung musik. cocok buat kongkow-kongkow. namun entah mengapa, saat saya kesana pada sore hari, masih cenderung sepi. Mungkin ramainya malam, entahlah. 



Dari Jembatan Barelang, saya terus melanjutkan perjalanan ke arah selatan melewati pulau rempang sampai ke ujung aspal tepatnya di Pulau Galang yakni ke Perkampungan Eks Pengungsi Vietnam (Kamp Vietnam). Jadi ternyata dulu terdapat ribuan orang Vietnam yang banyak terdampar di Pulau Galang ini ketika perang dunia ke-2 karena melarikan diri dari negaranya yang sedang dilanda perang. Ehm, tidak nampak seperti bekas tempat pengungsian lagi sih tempatnya. Hanya ada sebuah museum yang itu pun kecil sekali museumnya, monyet-monyet liar di sekitar bekas kamp pengungsian vietnam, dan 2 buah kapal yang dijadikan monument peringatan. Namun ada sebuah vihara yang cukup bagus disini menurut saya yakni Vihara Quan Am Tu dengan patung dewi kuan yinnya dan masih digunakan hingga saat ini. Masuk vihara ini pun gratis alias tidak dipungut biaya.
Vihara Quam Am Tu

Di sepanjang pulau Galang sampai dengan Pulau Rempang juga bertebaran pantai-pantai berpasir putih yang cantik terutama di sisi barat pulau ynag menghadap selat malaka. Salah satunya yang cukup luas di ujung paling selatan Pulau Galang Baru terdapat Pantai Melur yang putih bersih dan sepi yang berjarak kurang lebih 100 km dari pusat kota Batam. Cukup jauh memang, tapi sangat worth it! Tipikal pantai berpasir putih dan nyaris tidak berombak karena terletak di sisi selat Malaka. Dan entah mengapa, ketika saya kesana, pantai-pantai ini tampak lumayan sepi padahal waktu itu weekend. Apakah karena jaraknya yang memang jauh dari kota Batam ?  

Pantai Melur
Pantai Melur
Di kota Batam sendiri banyak tempat menarik yang layak dan sempat saya dikunjungi. Terdapat Vihara Budha terbesar di Asea Tenggara, Vihara Maestreya. Sangat besar dan luas memang, apalagi waktu itu sedang ada festival kuliner khusus buat vegetarian. Lumayan seru! Ada pula Kelenteng dengan Patung Dewi Kuan Yin tertinggi di Indonesia yang dibuktikan dengan tulisan penghargaan dari rekor Muri sebagai patung tertinggi di Indonesia yang terletak di daerah sekupang, Batam bagian barat.
Convention Hall
Vihara Maestreya
Menikmati Kota Batam di malam hari ternyata juga cukup menarik. Banyak tempat seru buat hang out. Banyak restoran – restoran seafood di pinggir pantai. Bisa juga menikmati view kota Batam yang ajib di malam hari dari Bukit Seraya, dan tidak ketinggalan pula untuk mencicipi kuliner khas batam, gonggong. Nice!!

Gonggong
Satu fakta yang menurut saya cukup menarik tentang Batam ialah bahwa ternyata batam merupakan tempat ketiga di Tanah air dengan kunjungan wisatawan mancanegara / wisatawan asing terbanyak setelah Bali dan Jakarta. Mungkin karena letaknya yang sangat dekat dengan Singapore. Bukan rahasia umum lagi kalau banyak orang – orang Singapore yang justru belanja di kota Batam, namun kebalikannya  orang Indonesia malah banyak belanja di Singapore. Sudah seharusnya Batam menjadi tujuan wisata yang patut diperhitungkan oleh wisatawan domestik. So lets visit batam ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar